Reorientasi Gerakan Sosial Pemuda

 Maksis Sakhabi

Pegiat Sosial/Wakil Ketua Karang Taruna Provinsi Banten 2020-2025

 


Pasca terpilihnya Yudi Budi Wibowo sebagai Ketua Karang Taruna Provinsi Banten untuk periode 2025-2030 menandakan proses estafet kepemimpinan di organisasi sosial berbasis generasi muda itu berjalan cakap dan matang. Proses yang terjadi hampir sempurna dan tidak meninggalkan catatan luka bagi sebagian pegiat Karang Taruna. Ini menandakan adanya keinginan para pemuda memutar orientasi gerakan sosial di Provinsi Banten di tengah permasalahan sosial yang masih dinamis di kalangan generasi muda Banten. 

Estafet kepemimpinan di tubuh Karang Taruna Banten tidak lepas dari kolaborasi efektif yang terjadi antara kepemimpinan sebelumnya (baca: Andika Hazrumy.) dengan kepemimpinan yang melanjutkannya (baca: Yudi BW). Kolaborasi efektif ini memberikan pelajaran berharga bagi para aktivis sosial khususnya yang berada di Karang Taruna. Andika Hazrumy memimpin Karang Taruna selama 3 (tiga) periode dilakukan dengan soft leadership, yaitu kepemimpinan yang tenang, terukur, dan administratif, sehingga mampu membawa Karang Taruna sebagai organisasi yang mampu mengatasi setiap persoalan. Dibandingkan dengan organisasi sekelasnya, seperti KNPI yang tidak satu-satunya maka Karang Taruna adalah organisasi satu-satunya di Banten alias tidak ada dua, tiga atau lebih.

Andika Hazrumy dan Yudi BW akan menjadi simbol reorientasi gerakan sosial pemuda di Banten dengan prinsip kolaborasi efektif, ini tergambar dari cara musyawarah yang matang dan menghasilkan keputusan kolaboratif untuk kemajuan pemuda di Provinsi Banten melalui gerakan sosial di Karang Taruna. Nilai kolaborasi efektif yang lahir dari Temu Karya Karang Taruna pada 27 Desember 2025 lalu akan berdampak pada soliditas generasi muda yang diwakili para pegiat sosial dan aktivis Karang Taruna untuk berbuat dan berkarya memenuhi cita-cita pembangunan di Provinsi Banten diantaranya adalah mewujudkan pemuda kreatif, berkarya, berwirausaha, mandiri dan berdaya saing. Cita-cita pembangunan itu dapat diwujudkan dengan keterlibatan generasi muda yang peduli secara langsung melalui gerakan sosial yang dibangun melalui wadah yang disebut Karang Taruna.

 

Tantangan ekstrem

Menjalankan roda organisasi akan memerlukan perangkat yang siap dan berfungsi. Episode kepemimpinan Yudi BW ini memiliki tantangan khusus dalam bayang-bayang permasalahan sosial di kalangan pemuda, yaitu pengangguran usia produktif. Data statistik di Tahun 2025 menunjukkan angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi Banten sebesar 6,69%. Sebuah angka yang tidak seimbang dengan jumlah industri yang tersebar di wilayah Provinsi Banten. Namun, bagi Karang Taruna, soal pengangguran bukan sekedar soal angka dan statistik, isu ini dalam kacamata pegiat sosial adalah tantangan untuk merekonstruksi keadaan generasi muda yang dikategorikan pengangguran melalui aktivitas organisasi. 

Sebagai organisasi sosial berbasis kaum muda, Karang Taruna mempunyai pola pengembangan potensi dan kompetensi melalui pendekatan sosial, diantaranya pelatihan-pelatihan, pengembangan nilai dan budaya, kewirausahaan, vokasi dan sebagainya. Semua itu dilakukan untuk memenuhi kompetensi dan potensi generasi muda agar dapat mandiri dan berdaya menciptakan sesuatu yang pada gilirannya bernilai secara ekonomi. Gerakan sosial ini penting untuk merubah paradigma generasi muda agar tidak terjebak pada pemikiran statis, bahwa bekerja itu harus di perusahaan atau di industri, akan tetapi sebaliknya generasi muda harus berpikir dapat menciptakan lapangan kerja melalui potensi dan kompetensi yang ada pada dirinya masing-masing.

Oleh karena itu, peta sumber daya manusia (SDM) yang digunakan dalam organisasinya harus diurai sedemikian rupa, merujuk pada kemampuan, potensi, jejaring dan kebiasaan baik personal pengurusnya. Maka seluruhnya akan bekerja secara beriringan sehingga dapat menggerakkan aktivitas atau program kerja dengan paten. Kolaborasi efektif akan banyak melahirkan nilai positif, gagasan utama dan aksi-aksi nyata yang menjadi tujuan organisasi.

Kepemimpinan Yudi BW dipandang mampu meletakkan nilai kompetensi dan potensi secara matang. Proses menerima estafet dari kepemimpinan Andika yang dilakukan Yudi BW menggambarkan adanya reorientasi gerakan sosial yang mengutamakan prinsip kolaborasi efektif dengan mendahulukan kepentingan bersama. Yudi BW nampak sebagai sosok yang memiliki komitmen untuk meneruskan capaian-capaian terbaik di era kepemimpinan Andika. Sementara Andika juga memberikan kepercayaan penuh kepada Yudi BW sebagai figur yang mampu meneruskan membawa Karang Taruna Provinsi Banten menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat. Keduanya akan menjadi simbol kebangkitan generasi muda Banten untuk lebih aktif, kreatif, mandiri dan berdaya.

Selanjutnya adalah implementasi gagasan utama dari kolaborasi efektif menjadi gerakan sosial yang terasa di tengah-tengah masyarakat. Gerakan sosial ini sebagai alat bagi Karang Taruna untuk menjalankan program-program yang dapat membantu pemerintah mewujudkan cita-cita pembangunan. Maka, Karang Taruna tidak ragu-ragu untuk melaksanakan apa yang diperlukan pemerintah. Turut berpartisipasi dalam mewujudkan pembangunan di bidang sosial kepemudaan. Sebaliknya, pemerintah harus melirik Karang Taruna sebagai mitra strategis yang memiliki kemampuan menggerakkan spirit sosial yang berdampak pada pengembangan generasi muda, terutama dalam melahirkan pemuda-pemudi yang memiliki kompetensi keahlian melalui pelatihan-pelatihan, dan lain-lain.

Komentar